Home
 
 
 
 
 
 
 


Home

 KIAT BERTAHAN SAAT SITUASI HARGA TELUR TERPURUK DI BAWAH HARGA POKOK PRODUKSI

(Oleh Winarno)

 
Dalam catatan sejarah perteluran di Indonesia hampir selalu terjadi paradoks, bila harga pakan naik, justru harga telur turun. Hal itu terjadi karena :
1. Pihak pabrik pakan menawarkan kesempatan beli pakan dengan harga lama dalam tempo 7 (tujuh) hari ke depan. Maka, peternak layer yang biasa beli pakan pabrikan - konsentrat atau pakan komplit – akan berusaha beli sebanyak-banyaknya untuk keperluan 1 – 2 bulan depan. Syarat pembayarannya cash before delivery (C.B.D.). Bagi peternak dengan populasi besar dan bermodal besar (populasi >100.000 ekor layer), tidak jadi masalah. Nah, bagi peternak dengan populasi sedang atau kecil, dengan cash flow terbatas, maka akan berusaha mendapat uang kontan untuk bisa menebus pakan/konsentrat harga lama. Caranya, menjual telur kepada pedagang minta pembayaran kontan dimana biasanya jual secara kredit dengan tempo 7 – 14 hari. Karena pembayarannya minta kontan, maka pedagang akan memanfaatkan situasi itu dengan minta potongan harga atau menawar harga telur dengan harga lebih rendah dibanding harga pasaran saat itu. Akibatnya, psikologi pasar terguncang. Pedagang bilang kepada peternak yang lain bahwa dia dapat harga telur dengan harga murah. Peternak yang lain pun akhirnya ikut jual murah. Terjadi lah efek berantai, harga telur terseret turun, turun dan turun terus sampai batas terendah, termasuk harga telur dari peternak besar. Seolah-olah supply telur meningkat. Pada hal, supply telur tidak ada lonjakan. Toh tiap hari juga habis terjual tidak ada telur yang dibuang atau dimusnahkan;
2. Efeknya berantai, para peternak akan berusaha menjual layer tua. Baik yang sudah waktunya afkir atau yang menjelang afkir (dipercepat) karena dengan harga jual sudah di bawah harga pokok produksi, jelas rugi bila dipelihara terus. Di Jawa Timur, harga layer afkir pada bulan Juli – Agustus 2013 masih Rp 21.000,-/kg, saat ini, 26 September 2013 harganya tinggal Rp 17.000,-/kg dan bisa dipastikan akan turun terus karena peternak layer berebut pasar afkir. Di titik ini memang terjadi over supply layer afkir, akibatnya harganya turun. Dan, jualnya pun lebih sulit, tidak bisa sebanyak dibanding kondisi harga normal. Karena pedagang ayam layer afkir tidak mau beresiko mengalami kerugian akibat penurunan harga. Kembali lagi, seolah-olah terjadi over supply telur akibat ayam tua tidak segera habis terjual untuk membantu menebus pakan harga lama;
3. Efek berantai berikutnya, para peternak layer menunda pemasukan anak ayam (D.O.C) dengan alasan logis sedang merugi dan belum ada tempat bagi ayam pullet nantinya karena ayam tua belum habis. Akibatya, harga D.O.C layer turun drastis. Harga D.O.C Maret - April  2014, Rp 2.000 - 2.500,- per ekor. Selanjutnya, pihak pembibit ayam petelur bisa dipastikan mengurangi pemasukan telur tetas ke dalam mesin pengeram/penetas. Sebagian telur tetasnya dijual ke pasar telur komersil. Harga telur dari pembibitan selalu dijual dengan harga lebih murah dibanding telur komersil karena tidak bisa disimpan lebih lama, karena ada bibitnya (fertile). Jadi, harga telur komersil sudah jatuh, “ketimpa tangga”;
4. "Over supply" pemasukan D.O.C GPS sampai dengan 40% sejak 2 - 3 tahun yang lalu;
5. Kapan berakhir ? Efek berantai penurunan harga telur ini akan berakhir dengan sendirinya, bila :
5.1.  Ayam layer tua sudah habis terjual, supply telur berkurang, harga telur akan merangkak naik dengan sendirinya;
5.2.    Peternak layer yang sudah menjual habis layer tua, mulai memasukkan D.O.C. Akibatnya, menyebabkan demand terhadap D.O.C naik, maka harga D.O.C layer akan naik;
5.3.    Pada saat yang bersamaan, pihak pembibit layer pun akan menjual induk yang tua untuk mengurangi produksi D.O.C sehingga supply-nya berkurang. Bila induk tua sudah habis dijual, supply telur ke pasar telur komersil berkurang, ini bisa menyebabkan harga telur komersil naik dengan sendirinya.
 
Harga Pokok Produksi Telur
Tentang harga pokok produksi (H.P.P) telur bila mengikuti rumus yang pernah saya sampaikan di artikel terdahulu, yaitu rata-rata harga pakan dikalikan FCR total 3,24. Di Jawa Timur, pd bulan April 2014, rata-rata harga pakan komplit untuk layer produksi dengan kualitas standar protein 18,5% dan energi 2.750 Kcal/kg, Rp 4.800,-/kg sampai di makan ayam. Maka, harga H.P.P telur = 4.800 x 3,24 = -/+ Rp 15.552,-/kg. Sementara harga jualnya hari ini di Blitar Rp 13.000,-/kg. Rugi Rp 2.552,-/kg.
 
Kiat Bertahan Hidup
 
Prinsipnya, justru usahakan meningkatkan performance produksi menjadi lebih tinggi lagi dengan cara memperbaiki manajemen pemeliharaannya dan lakukan efisiensi pakan (FCR) semaksimal mungkin. Caranya :
1.    Bio-security
Bio-sekuriti saat ini sudah menjadi suatu kebutuhan untuk mengurangi resiko masuknya bibit penyakit dari luar dan sebaliknya, maka pasang lah semprotan untuk kendaraan dan orang yang akan masuk ke lokasi farm. Karyawan yang akan masuk ke dalam kandang diwajibkan cuci kaki dan tangan dengan larutan desinfektan dengan dosis sesuai aturan pakai. Ganti alas kaki, baju dan celana seragam yang sudah steril;
 
2.    Desinfeksi
Lakukan penyemprotan kandang, ayam dan lokasi farm untuk mengurangi pencemaran penyakit yang ada di dalam lokasi kandang dan farm, minimum seminggu sekali;
 
3.    Isolasi
Pisahkan ayam dengan gejala sakit apa pun dari ayam yang sehat, tiap hari. Tempatkan di karantina. Bila masih mungkin disembuhkan, diobati dulu. Setelah 4 hari pengobatan tidak sembuh, dijual saja.
 
4.    Culling
Jalankan program culling harian atau mingguan pada layer yang berumur 30 minggu ke atas (layer yang tidak produktif) dengan standar sebagai berikut :
4.1.    Kurus, bobot badan kurang dari 1,7 kg;
4.2.    Lumpuh, berapa pun bobot badannya;
4.3.   Pigmentasi kuning di kaki, paruh dan kelopak mata;
4.4.   Ascites, kembung air di perut ayam;
4.5. Retensi telur : perut membesar, bila dipegang terasa keras atau istilah karyawan kandang, tumor;
4.6.  Prolapsus (bahasa Jawa : dobol);
4.7.  Sexing error, istilah karyawan kandang banci;
4.8.  Gesit (tidak feminin), bila didekati berusaha kabur.
 
5.    Pengendalian Faktor Pre-Disposisi
5.1. Pengendalian serangga, terutama lalat. Jangan sampai lalat naik ke tempat pakan dan atau minum ayam;
 
5.2. Pengendalian ekto parasit. Saat ini sudah tersedia preparat yang paling praktis, yaitu pakai obat Ivermectyne oral (Kepromec Oral) tiap bulan. Aplikasikan lewat minum dalam keadaan perut kosong atau puasakan makan 2-3 jam sebelum diobati dan puasa minum 1 jam saja;
 
5.3. Pengendalian endo-parasit (cacing), terutama cacing pita. Bisa menggunakan preparat Niclosamide. Bila pakai yang murni, via pakan dengan dosis 1,5 kg/ton, 3 hari berturut-turut.
5.4. Pengendalian nyamuk penyebab sakit Malaria Unggas (Leuccozytozoon) dengan cara lakukan pengasapan pakai fogger, pakai obat Sipermetrin 25% EC (merk BENTACIDE 250 EC) setiap 2 (dua) minggu sekali. Usahakan jangan ada air yang menggenang, keringkan. Bila tidak mungkin dikeringkan, misal kolam atau rawa, maka air di kolam atau rawa mesti diobati pakai larvasida untuk membasmi jentik-jentik calon nyamuk (Matrik SG, isinya Temephos 1%, mirip Abate)
 
 
6.    Kendalikan FCR
Semua strain ayam meng-klaim bahwa performance ayamnya bisa mencapai Feed Conversion Ratio (FCR) rata-rata 2,1 – 2,2 dari umur 20 – 80 minggu.
Caranya :
6.1. Pakan jangan tercecer, pemberian pakan seyogyanya pakai alat Semi atau Full Autometic Feeder Layer, kereta gantung dorong atau pakai dinamo elektrik, bisa menghemat pakan 2-3 gram per ekor per hari;
6.2. Pemberian air minum seyogyanya pakai "nipple". Terbukti lebih hemat pakan dan mengurangi limbah cair
6.3. Pakan jangan hilang. Supaya tidak mudah hilang, maka persediaan pakan dan yang dipakai harus di-stock opname setiap hari (check, re-check dan cross-check);
6.4. Perbaiki keseimbangan isi pakan, terutama keseimbangan antara Methabolis Energy (M.E) dibanding Crude Protein (C.P). Batasan normatifnya 142 – 155. Pengalaman pribadi, ratio ME : CP di Pare, Kediri yang paling cocok nilainya 145. Tetapi di Bati Bati, Tanah Laut, ratio ME : CP yang paling sesuai 147.
Ingat, jangan sekali-kali mengurangi kualitas pakan. Ayam tidak mengenal harga pakan, tahunya jumlah pakannya cukup dengan kualitas pakan baik. Ayam layer diberi jelek balasnya jelek, diberi baik balasnya baik. Di tiap-tiap daerah, kebutuhan ratio ME : CP berbeda-beda. Karena ayam akan selalu berusaha beradaptasi dengan lingkungan dimana dia hidup. Maka, kewajiban peternak lah untuk mendukung proses adaptasinya ayam terhadap lingkungan.
Belum lagi keseimbangan yang lain-lain, masih ada 10 (sepuluh) keseimbangan lagi yang menjandi faktor penyusunan formula pakan layer.
Untuk lebih jelasnya, para peternak bisa konsultasi dengan ahli nutrisi yang berpengalaman di lapangan. Atau Anda bisa konsulatasi dengan kami, Winarno, drh.

6.5. Pakai lah probiotik baik lewat minum atau pun lewat pakan sebagai feed additive untuk mendukung efisiensi pakan secara enzimatis dan mampu meningkatkan daya tahan tubuh ayam. Pakai probiotika yang daya kerjanya : amilolitik, lipolitik, proteolitik, selulolitik, lignolitik, acidophilus (merk Win_Prob).
 
 
Sekian, semoga bermanfaat dan semoga tetap semangat untuk bertahan dan sukses.

 ______________________________________________________________________

FERMENTASI BAHAN BAKU PAKAN TERNAK DAN UNGGAS, PROSEDUR DAN LAMANYA

Mahalnya harga bahan baku pakan dan atau pakan jadi komplit, baik ex.pabrikan atau pun hasil self mixing, membuat peternak pusing. Sulit mendapatkan untung. Salah satu jalan keluarnya adalah peternak harus berusaha membuat pakan alternative dimana harganya bisa lebih murah 20 – 30% dibanding pakan ex.pabrikan tapi kualitasnya harus bisa setara. Jawabannya adalah pakan fermentasi, walau pun tidak seluruhnya difermentasi.
Prinsipnya bahan baku pakan ternak dan atau unggas yang perlu difermentasi adalah yang kandungan serat kasarnya tinggi, >10% atau bahan baku yang kualitasnya rendah. Setelah difermentasi dengan baik dan benar, maka hasilnya serat kasarnya turun secara signifikan karena diurai oleh probiotika. Kadar protein, nilai gizi lain-lain dan daya cernanya meningkat. Kalau ada ampas tahu, cukup dikeringkan. Bungkil kelapa, menurut saya tidak perlu difermentasi karena tergolong bahan baku pakan ternak dan unggas yang mudah dicerna karena kadar serat kasarnya rendah, kurang dari 10%.
Probiotika yang baik untuk fermentasi adalah yang kerjanya mampu mengurai selulosa (selulolitik) dan lignin (lignolitik). Jadi harus dipilih probiotika yg bisa menghasilkan enzim selulase dan lignolase.

Bahan baku pakan yang akan difermentasi, tidak harus dikukus. Malah jadi lama dan mahal prosesnya. Kalau mau dikukus, sekalian saja dikukus sampai masak, jadi tidak usah difermentasi. Sebab bahan yang sudah dimasak, sudah lebih mudah dicerna. Berikut di bawah ini saya cantumkan hasil fermentasi jerami sebagai contoh.

 

 

Penting untuk diperhatikan bahwa bahan pakan yang akan difermentasi harus diketahui berapa kadar airnya. Kemudian ditambah probiotika + air, menjadi 25-30% kadar air totalnya. Bagusnya diukur pakai alat ukur kadar air. Kalau tidak punya, pakai tangan juga bisa. Bahan pakan yang sudah dicampur air + probiotika, diaduk sampai rata, diambil segenggam, dikepal kuat-kuat, kemudian kepalan dibuka. Bila masih menggumpal seluruhnya, berarti kadar airnya ketinggian. Bila sebagian menggumpal dan sebagian “kepyar”, kadar airnya sudah tepat. Kemudian dimasukkan ke dalam drum plastik, ditutup rapat/kedap udara.
Tergantung jenis bahan pakan dan probiotikanya, ada yang kerjanya kilat, sedang dan lambat :
1)     yang kilat, diperam 3 hari sudah matang;
2)     yang sedang 7-10 hari sudah matang; dan
3)     yang lambat 21 – 30 hari baru bisa matang.
Contoh di atas, fermentasi jerami, perlu waktu pemeraman 3-4 minggu. Tidak perlu pakai wadah, cukup dihampar di lantai, ditaburi kapur sedikit tapi rata, ditutup terpal rapat-rapat, dibiarkan 3-4 minggu.
Tentang tanda-tanda fermentasi sudah matang adalah adanya perubahan fisik :
1) bau : harum, asem, manis, gurih seperti bau ketan yang dikukus, bila berbau busuk, berarti gagal,
2) rasa : asem, manis, gurih,
3) tekstur : lembut dan "muprul" seperti wafer, mudah patah,
4) warna : tetap seperti warna bahan semula, bila berwarna coklat gelap atau hitam, berarti gagal karena terinfeksi oleh mikroba jahat (terorist).
Tentang takaran probiotika, tergantung kandungan sel atau koloni probiotikanya. Yang standar, jumlah sel atau koloni probiotika minimum 1 x 10 CFU/ml (Colony Form Unit). Semakin tinggi jumlah CFU, semakin baik. Atau, dosisnya ikuti anjuran dari pabrik atau produsennya. Contoh, fermentasi jerami tsb di atas, pakai probiotika “powder” (selulolitik dan lignolitik) dengan kandungan 1 x 10 pangkat minimum 10, perlu 6 liter/kg probiotika + air 50 liter air (diaduk rata) per ton jerami.

 

UP DATE

HARGA POKOK PRODUKSI (H.P.P.) TELUR AYAM RAS

AGUSTUS 2013

  (oleh Winarno)

         Kenaikan harga bahan baku bakar minyak dan nilai tukar dolar Amerika, tentu sangat berpengaruh terhadap kenaikan harga bahan baku pakan ayam. Terutama bahan baku yang berasal dari luar negri atau impor. Lebih-lebih dengan naiknya permintaan pasar internasional dan pemakaian sebagian bahan baku pakan untuk memproduksi energi, maka harganya pun menjadi semakin mahal. Pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap biaya transport juga sangat terasa sekali, semakin mahal. Selanjutnya, akan sangat berpengaruh terhadap harga pokok produksi telur.
Harga pokok produksi merupakan puncak dari berbagai variabel kegiatan manajemen peternakan ayam petelur. Komponen-komponen pembentuk harga pokok produksi telur : (1) pakan, (2) biaya operasional (upah, bahan bakar minyak, listrik, telepon, material-material, perawatan), (3) penyusutan pullet (ayam dara sampai dengan umur 19 minggu), (4) penyusutan investasi infrastruktur (kandang, gudang pakan dan telur, mess, kantor, listrik, jalan dll), (5) biaya penjualan (6) obat, vaksin, vitamin dan kimia, dan (7) biaya lain-lain.
Komponen pembentuk harga pokok produksi telur :
1.PAKAN
Harga pakan jadi/komplit buatan pabrik di Jawa Timur yang berlaku saat ini, per 29 Agustus 2013, rata-rata Rp 4.300,-/kg, naik 2 (dua) tahap, totalnya Rp 550,-/kg, akan menjadi Rp 4.850,-/kg. Ditambah biaya kirim ke kandang dengan jarak 100 km dan upah menurunkan, lebih kurang Rp 100,-/kg. Jadi, harga pakan, sampai dimakan ayam, menjadi Rp 4.950,-/kg. Dikalikan FCR (feed conversion ratio) total populasi ayam petelur yang berproduksi, umur 20 s/d 80 minggu, atau sampai afkir rata-rata 2.30, maka biaya pakan, Rp 11.385,-/kg.
2.BIAYA OPERASIONAL
Yang termasuk biaya operasional adalah semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan peternakan ayam petelur untuk berproduksi. Meliputi listrik, telepon, air, upah/gaji tenaga kerja, perawatan, material-material, sosial, kesehatan, pengamanan, sosial, bahan bakar minyak dan lain-lain. Antara satu peternakan dengan peternakan yang lain tentu saja berbeda. Tergantung dari sistem kandang yang digunakan, alat dan cara pemberian pakan dan minum, apakah manual, semi-otomatis atau otomatis. Menurut pengalaman peternak di Jawa Timur, dengan cara pemberian pakan dan minum secara manual, biaya opersionalnya lebih kurang Rp 1.200,-/kg. Bila semi-otomatis atau otomatis, biayanya bisa lebih murah Rp 100 – 200,-/kg.
3.    PENYUSUTAN PULLET
Yang dianggap pullet di sini adalah ayam dara sampai dengan umur 153 hari (umur 22 minggu, hari ke-7), sampai berproduksi HD >60%, dimana pada saat itu layer sudah bisa membiayai makanannya dari hasil produksi telurnya. Sedangkan yang dimaksud layer adalah ayam petelur umur 154 hari (umur 23 minggu, hari ke-1) s/d 80 minggu atau lebih, sampai diafkir. Dengan harga anak ayam, pakan, biaya operasional, vaksin, vitamin, kimia dan lain-lain yang berlaku saat ini, per 29 Agustus 2013, harga pullet sampai dengan umur 153 hari, lebih kurang Rp 75.000,-/ekor.
Saat layer tua diafkir pada umur 80 minggu atau lebih, harga di Jawa Timur saat ini rata-rata hanya Rp 20.000,-/kg. Bobot badan rata-rata 1,9 kg/ekor = Rp 38.000,-/ekor. Sedangkan sisa hidup saat diafkir pada umur 80 minggu atau lebih, rata-rata 15,0%. Jadi, pendapatan dari ayam afkir Rp 38.000,- x 85% = Rp 32.300,-/ekor. Nilai penyusutan pullet adalah harga awal masa produksi, dikurangi pendapatan afkir, sisa Rp 42.700,-/ekor, dibagi pendapatan telur dalam 1 (satu) periode s/d umur 80 minggu, rata-rata 20 kg telur/ekor/periode = Rp 2.135,-/kg telur.
4.    BIAYA PENYUSUTAN INVESTASI KANDANG DAN INFRA STRUKTUR PENDUKUNG
Beban biaya penyusutan investasi kandang dan infra-struktur penunjang, tidak termasuk nilai lahan. Karena lahan nilainya tidak menyusut, malah akan naik terus dari waktu ke waktu.
Kandang dan infra-struktur penunjang yang sudah ada saat ini, pada umumnya dibuat 3 – 10 tahun yang lalu dimana nilainya saat itu rata-rata Rp 70.000,-/ekor. Dengan perhitungan masa pakai bisa 10 tahun (= 7 periode), maka nilai penyusutan investasi awal sama dengan Rp 70.000 : 7 periode : 20 kg telur per periode, Rp 500,-/kg.
Bagi peternak layer yang sering memundurkan jadwal afkir, 6 – 10 minggu tiap periode, maka pemakaian kandang tidak bisa 7 (tujuh) periode dalam 10 (sepuluh) tahun, hanya 6 (enam) periode saja. Nilai penyusutan investasinya menjadi Rp 50.000,- : 6 periode : 22 kg (karena umur afkirnya dimundurkan, tapi produktifitasnya sudah jelek) = Rp 530,-/kg. Malah jadi lebih mahal.
Belum lagi tingginya rasio upah tenaga kerja akibat rendahnya produktifitas layer yang sudah tua, yang sebenarnya sudah tidak layak “pakai”. Kualitas telur jadi menurun, resikonya banyak keluhan dari pelanggan telur. Persentase telur retak dan pecah meningkat. FCR ayam tua juga sangat jelek, lebih dari 2,5. Akibatnya, pemanfaatan investasi kandang dan infrastruktur menjadi kurang ekonomis. Ini sebagai bahan renungan bagi Anda, para peternak petelur. 
5.    BIAYA PENJUALAN
Setelah telur diproduksi, masih ada biaya yang harus dikeluarkan untuk menjualnya walaupun dijual di tempat (loco) di kandang atau gudang telur. Biaya-biaya itu meliputi telepon, listrik, susut bobot, retak, pecah, upah tenaga kerja, kemasan (peti kayu, egg trey, tali, label dan lain-lain). Rata-rata biaya penjualan Rp 250,-/kg.
6.    OBAT-OBATAN, VAKSIN DAN KIMIA (O.V.K.)
Perusahaan peternakan ayam petelur, karena mengelola makhluk hidup, maka memerlukan obat-obatan (anti biotika, anti cacing), vaksin (vaksin mati dan vaksin hidup) dan kimia (desinfektan, insektisida, vitamin) supaya ayam tetap sehat dan berproduksi secara optimal. Vaksinasi terhadap beberapa penyakit harus diulang berkala, obat cacing perlu diulang berkala, pemberantasan hama lalat dan kutu, bio-sekuriti dan vitamin juga harus diberikan secara berkala. Total biaya OVK bila dirata-rata tidak kurang dari Rp 500,-/kg.
7.    BIAYA LAIN-LAIN
Dalam perjalanan suatu perusahaan, tidak terlepas dari hal-hal yang terjadi di luar perkiraan atau tak terduga. Biasanya menyangkut biaya sosial, kesehatan karyawan, keamanan, kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja. Maka, perlu dicadangkan biaya tak terduga, diperkirakan rata-ratanya perlu anggaran sebesar Rp 75,-/kg.
 
Catatan : dalam pembahasan ini diasumsikan semua biaya investasi dari “kantong” sendiri. Dianggap tidak pakai uang bank. Maka, tidak ada biaya bunga dan angsuran hutang ke bank. Istilahnya, pakai “uang dingin”, bukan “uang panas”.
Rangkuman biaya-biaya :
1.   Pakan ………… Rp 11.385,- (73.24%)
2.   B.O. ………….. Rp   1.200,- (  7.72%)
3.   Pullet ………… Rp   2.135,- (13.73%)
4.   Investasi …...... Rp      500,- (  2.75%)
5.   Penjualan ......... Rp      250,- (  1.61%)
6.   O.V.K ………… Rp      500,- (  3.32%)
7.   Lain-lain ……... Rp        75,- (  0.48%)
                  Total  Rp 15.545,- (100.00%)
Berikutnya, supaya gampang menghitung secara cepat, rasio harga pokok produksi (= R.H.P.P.), yaitu harga pokok produksi telur Rp 15.545 : harga pakan Rp 4.950,-/kg = 3,14.
RUMUS
HPP TELUR = HARGA PAKAN X 3.14
Kalau toh ada selisih hitungan secara akunting, bisa dipastikan tidak akan banyak, +/- Rp 200,-/kg.
Persoalannya, bagaimana caranya peternak petelur bisa menekan HPP supaya kompetitif (punya daya saing tinggi, tidak tergantung dari tingginya harga jual) dan bisa bertahan dikancah peternakan ayam petelur serta masih bisa mendapat untung.
Sebelumnya, mari kita mawas diri dulu, apakah manajemen peternakan ayam petelur yang Anda kelola sudah berada di jalur yang baik dan benar, baik efisiensi mau pun performance-nya :
1.   Ke-1 : High Cost – High Performance
2.   Ke-2 : Low Cost – LowPerformance
3.   Ke-3 : High Cost – Low Performance
4.   Ke-4 : Low Cost – High Performance
Sekarang coba Anda tinjau dan atau evaluasi, apakah biaya-biaya untuk menghasilkan telur di perusahaan Anda sudah efisien. Terutama biaya pakan, biaya operasional dan biaya penyusutan pullet. Karena ketiga biaya tersebut menempati porsi yang paling banyak dan menentukan, yaitu 94.69%. Dan, Anda evaluasi apakah performance-nya sudah baik dan benar.
Bila Anda berada di jalur ke-1, mungkin masih bisa untung. Karena, dengan HC-HP, ada kemungkinan bisa tercapai FCR 2.1 – 2.2 dan gambaran grafik produksinya tidak turun secara curam tetapi bisa landai.
Bila Anda berada di jalur ke-2, LC-LP, umumnya masih bisa bertahan. Asal efisiensi biaya operasional dan pakan harus cukup nyata. Biaya operasional harus bisa lebih rendah Rp 250,-/kg telur dibanding peternak layer yang lain dan harga pakan harus bisa lebih murah Rp 300,-/kg dibanding peternak layer lain. Walaupun produktifitasnya lebih rendah, tetap ada selisih lebih antara harga jual telur dengan harga pokok produksi. Saran saya, cari upaya supaya ada sedikit peningkatan produktifitas.
Bila Anda berada di jalur ke-3, HC-LP, hampir bisa dipastikan rugi. Bila Anda masih ingin mempertahankan peternakan yang sudah di jalur ini, Anda harus melakukan “reformasi” manajemen, terutama di level pimpinan.
Pada umumnya, perusahaan yang berjalan di jalur ke-3 ini, struktur organisasinya “gembung” seperti buah apel. Jadi, salah satu programnya harus dilakukan perampingan struktur organisasinya menjadi “segitiga kaki lebar”, kokoh.
Kenyataan di lapangan, semakin banyak karyawan, bisa dipastikan semakin banyak masalah. Belum tentu karyawan yang direkrut mampu menyelesaikan masalah.
Cari karyawan yang memang mampu, profesional (jujur, disiplin, punya integritas pribadi yang utuh) dan berdedikasi tinggi. Ingat prinsip dasar dalam menyusun struktur organisasi, the rigth man on the right place (orang yang tepat didudukkan di posisi yang tepat).
Bila sudah tidak mampu dan atau tidak mau mempertahankan lagi, saran saya, dijual saja atau di-“likuidasi”. Untuk apa “capek-capek” bekerja tetapi malah rugi.
Jalur ke-4, LC-HP, merupakan idaman semua peternak layer. Perusahaan yang berjalan di jalur ini, biasanya, struktur organisasinya ramping, masa kerja karyawannya relatif lama (rata-rata bisa >5 tahun), terbentuk teamwork yang harmonis dimana masing-masing orang jelas job description-nya dan hampir-hampir tidak ada konflik internal.
 
I. EFISIENSI
Supaya bisa efisien, perlu dibenahi rasio-rasionya, sebagai berikut :
1.   Rasio Populasi
Yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah total populasi layer atau ayam petelur yang berproduksi, yaitu mulai umur 20 – 80 minggu atau lebih, dibagi semua karyawan yang terlibat mengelola suatu peternakan. Mulai Manajer, Kepala Bagian, Mandor, Staf, Satpam, karyawan kandang, karyawan gudang pakan, gudang telur, perawatan, umum dan lain-lain. Untuk peternakan dengan sistem kandang terbuka dan pemberian pakan dan minumnya manual, seyogyanya, rasionya tidak kurang dari 2.000 ekor per orang. Bila rasionya kurang dari 2.000 ekor per orang, biaya upah tenaga kerjanya menjadi relatif mahal. Upah tenaga kerja memakai patokan Upah Minimum Propinsi (UMP) setempat.
Bila pemberian air minumnya pakai nipple, rasionya bisa lebih dari 2.000 ekor per orang. Bila pemberian air minum dan pakan pakai sistem semi otomatis tanpa energi listrik (hopper dorong), rasionya bisa lebih dari 2.500 ekor per orang dengan catatan populasi minimum 100.000 ekor
Bila sistem kandang, tata letak dan tata kelolanya dirancang sejak awal, rasionya bisa >3.000 ekor per orang. Biaya upah tenaga kerja tentu saja menjadi relatif lebih murah walau pun Anda memberi upah 125 - 150 % di atas Upah Minimum Populasi setempat. Keuntungannya, karyawan lebih mudah diatur karena orangnya sedikit tapi dengan take home pay tinggi, produktifitasnya menjadi lebih tinggi dan “betah” bekerja di tempat Anda. Tidak terjadi “gonta-ganti” karyawan terlalu sering.
2.   Ratio Biaya Operasional
Biaya operasional ada yang bersifat tetap (fixed cost), ada yang bersifat tidak tetap (vaiable cost). Logikanya, sebaiknya Anda harus bisa menekan biaya tetap. Misalnya, menggunakan karyawan tetap sedikit saja, yaitu sebatas tenaga inti atau tenaga terampil. Selebihnya, yang tidak memerlukan keterampilan tinggi, cukup menggunakan karyawan harian dan atau borongan atau out sourcing. Di peternakan ayam pedaging, semua karyawan kandang sistem upahnya borongan.
3.      Rasio Konversi Pakan
(Feed Conversion Ratio = FCR)
Porsi terbesar komponen pembentuk harga pokok produksi telur adalah pakan yaitu lebih kurang 75%. Maka dari itu segala daya upaya harus diusahakan bisa menghasilkan penghematan pemakaian pakan tetapi tanpa mengorbankan sisi produktifitas. Semua strain layer yang beredar di Indonesia mengaku bahwa, FCR strainnya bisa 2.1–2.2. Kenapa tidak bisa? Pengalaman banyak peternak layer di Jatim, FCR tersebut bisa dicapai dan dipertahankan selama bertahun-tahun, sejak 1995 sampai sekarang. Pemberian pakannya secara manual, tetapi pemberian air minum pada umumnya sudah pakai nipple.
Coba Anda hitung berapa rupiah yang menguap (potential loss) bila FCR 2.35 dibanding FCR 2.20. Berarti ada penghematan pemakaian pakan sebesar 0.150 kg pakan/kg telur x harga pakan Rp 4.950 = Rp 742,-/kg telur.
Anda yang punya layer 100.000 ekor, nilai penghematannya, produksi rata-rata 5.000 kg x Rp 742,- = Rp 3.710.000,-/hari x 30 hari = Rp 111.300.000,-/bulan x 12 bulan = Rp1.335.600.000,-/tahun.
FANTASTIS
Padahal ini hitungan dari jumlah layer 100.000 ekor saja. Bagi Anda yang punya layer banyak, >200.000 ekor, tidak akan rugi bila mengkaryakan tenaga ahli dengan gaji di atas Rp 10.000.000,-/bulan, dengan catatan performance dan efisiensi, yaitu egg mass >50 kg/1.000 ekor dan FCR maksimum 2.20.
Pemberian air minum ayam pakai nipple, jauh lebih hemat biaya listrik dan air serta hampir-hampir tidak ada limbah. Pemakaian pakannya juga bisa hemat 2 – 3 gram/ekor/hari dibanding pemberian air minum pakai talang.
Pemberian pakan ayam pakai corong (hopper) yang didorong tenaga manusia sangat menghemat pakan, bisa mencapai 2 – 3 gram/ekor/hari dibanding pemberian pakan secara manual pakai gayung. Karena pakan yang tercecer hampir tidak ada. Bila Anda mau, konstruksi kandang yang sudah ada bisa dimodifikasi supaya bisa pakai neeple dan hopper dorong.
Kombinasi keduanya, pemberian air minum pakai neeple dan pemberian pakan pakai hopper dorong, bisa menghemat pemakaian pakan lebih kurang 5 (lima) gram/ekor/hari. Tanpa perlu membatasi jatah pakan ayam. Pemberian pakan bisa tetap ad libitum. Artinya, biarkan ayam yang mengatur seberapa jumlah pakan yang dibutuhkan sesuai umurnya. Karena layer sangat jujur, dikasih makan sedikit, produksi telurnya sedikit dan kecil. Dikasih makan banyak, produksi telurnya banyak dan besar.
Ingat, harga pakan sangatlah mahal. Tiap gram yang bisa dihemat, akan sangat bermanfaat.
 
II. PRODUKTIFITAS
4.   Rasio Produktifitas Layer
Peternak layer wajib punya catatan (recording) produksi bukan yang harian (Hen Day) saja, tetapi harus lengkap sampai recording per periode (Hen House). Produktifitas layer,umur 20 – 80 minggu atau lebih, usahakan bisa mencapai egg mass rata-rata minimum 50 kg telur/1.000 ekor. Sedangkan sebagai bahan evaluasi per periode hen house, produksi telur seharusnya bisa mencapai 21 kg telur/ ekor pada umur 80 minggu. Standard tersebut bisa dicapai bila produktifitas telur harian (H.D%) tinggi, rata-rata >80%, diimbangi dengan susut jumlah ayam rendah, seperiode tidak lebih dari 10% (=0.67% per bulan) dan bobot telur per butir (egg weight) rata-rata >62,5 gram/butir.
Demikian sekilas ringkas hitungan harga pokok produksi telur saat ini, dengan dasar harga pakan dan anak ayam yang berlaku per 29 Agustus 2013. Bila, pada kemudian hari harga pakan, anak ayam, upah tenaga kerja, bahan bakar minyak naik lagi, berapa pun naiknya, maka cara menghitungnya mudah sekali. Demikian juga bila terjadi sebaliknya, harga-harga turun. HPP telur = harga pakan x 3,14.
Selamat berkarya, semoga Anda sukses.

______________________________________________________________________

 OBAT PEMBASMI LALAT

FOTO LALAT DEWASA

Lalat adalah salah satu hama/serangga terbang yang cukup penting untuk dikendalikan. Di samping menganggu kenyamanan hidup manusia, lalat bisa menularkan beberapa penyakit seperti diare, disentri, kolera, tipus, cacing dan lain-lain. Maka dari itu diperlukan obat pembasmi lalat yang mampu mengendalikan lalat secara menyeluruh dengan harga yang sangat murah.
Ada 2 (dua) cara pengendalian lalat :
*     Non-kimiawi : tanpa racun serangga
*     Kimiawi         : pakai racun serangga
 
 
Pengendalian Non-Kimiawi
Untuk mencegah pertambahan populasi lalat, yang utama adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan kandang dan tempat-tempat sampah diusahakan selalu bersih dan diikuti dengan menutup semua akses masuknya lalat ke dalam bangunan apa saja dengan pemasangan kawat kasa nyamuk, tirai plastik atau tirai angin di pintu-pintu utama bangunan. Bisa juga dengan memasang alat perangkap lalat dengan “black light” (sinar ultra violet dengan panjang gelombang 365) dilengkapi dengan perangkap daya tarik (attractan atau pheromone) dicampur dengan lem (glue trap) yang tahan kering.
 
 
 
Pengendalian Lalat Secara Kimiawi
Menggunakan trilogi "OBAT PEMBASMI LALAT", yaitu :
1. Racun serangga (insektisida) untuk membunuh lalat dewasa dengan disemprotkan ke lalat. Seyogyanya penyemprotan dilakukan pada malam hari di tempat lalat biasa tidur. Yang sudah biasa kami lakukan di kandang adalah dengan membuatkan tempat tidur lalat berupa sangkar bekas ditancapkan berdiri di halaman antar kandang, memanjang setinggi 50-60 cm. Bahkan, rumput di tengah halaman antar kandang tidak dipotong sehingga menyerupai jambul rambut atau rambut model “mo hawk”. Untuk merangsang supaya lalat mau tidur di tempat tsb, sangkar bekas dan jambul “mo hawk” tadi bisa disemprot pakai air gula 2 – 4%. Penciumanan lalat punya sensitifitas terhadap gula bisa seratus kali lebih peka daripada penciuman manusia. Setelah dilakukan penyemprotan air gula 2-4% beberapa kali, lama-lama lalat terbiasa tidur di “hotel” yang kita sediakan. Sehingga saat kita menyemprotkan insektida akan lebih efektif kena sasaran lalat, hemat waktu, tenaga dan biaya. Insektisida yang saya gunakan isinya Sipermetrin 25%, merk Bentacide 250 EC. Harganya sangat murah, hanya 60% dibanding merk lain yang isinya sama . Dosisnya cukup 1 : 200 (= 5 ml per 1 liter air). Efek kerjanya, bisa mematikan lalat seketika bila kena semprot (knock down effect). Bentacide 250 EC sangat ampuh sebagai obat pembasmi lalat tapi aman bagi manusia dan ternak.
 
BROSUR BENTACIDE 250 EC

 
BENTACIDE 250 EC KEMASAN 5 LITER
 
BENTACIDE 250 EC KEMASAN 250 ML
 
2.     Tidak semua lalat yang disemprot pada malam hari kemarin mati, maka pada pagi hari besuknya antara pukul 06.00 – 07.00 waktu setempat, perlu obat pembasmi lalat dengan insektisida yang berbentuk tabur dimana pada pagi hari lalat perlu mencari makan. Makanya disediakan makanan yang disukai lalat tapi diberi racun sistemik. Nama obatnya adalah Insektab 1 WP, isinya Imidakloprit 1%, bentuk butiran, siap ditaburkan di baki plastik, diletakkan di tempat banyak lalat. Terutama di sepanjang lorong/lantai kerja di bawah tempat pakan ayam. Bila lorong/lantai kerja dibuat dari beton cor, tinggal membasahi dengan uap air pakai semprotan gendong. Bila lorong/lantai kerjanya dari kayu, maka perlu dipasangi guntingan terpal selebar 5 – 7 cm, sepanjang lorong/lantai kerja. Dosisnya, 1 kg Insektab 1 WP bisa ditaburkan sepanjang 100-150 meter. Residu obat ini bisa bertahan selama 2 – 3 minggu. Diulang setiap minggu. Bisa juga diaplikasikan secara oles seperti orang mengecat. Caranya, Insektab dicampur dengan air secukupnya sambil diaduk menjadi kental seperti cat. Kemudian dioleskan di tempat yang banyak lalat tetapi jangan kena matahari langsung agar tidak cepat kering. Bila obat yang dioleskan kering, bisa disemprot air sedikit pakai sprayer tangan atau semprotan gendong, maka akan efektif lagi.
 
 
 
 
KEMASAN 1 KG
TUTUPNYA RANGKAP DAN BERSEGEL
 
3. Racun larvasida untuk membunuh larva lalat (belatung) di tempat penimbunan sampah organik atau di tempat perkembang-biakan lalat di kotoran ayam atau hewan ternak yang lain. Calon lalat (telur, larva dan pupa) justru populasinya 80% dari total populasi lalat. Larvasida yang efektif untuk membasmi larva adalah Deo Larvanik. Isinya asap cair dan sari tembakau dan Permetrin. Campuran obat ini bisa memberikan efek residual selama 2 (dua) bulan. Dosisnya 20 ml per liter air, disemprotkan ke permukaan kotoran ayam atau sampah seluas 10 – 20 m-2. Untuk kotoran yang basah, dosisnya dua kali lipat. Penyemprotan dilakukan secara rutin, 2 (dua) kali per minggu.
 
 

 

Update terakhir: April 17. 2014 10:43:34
 

 
 
 
 
 
obat pembasmi lalat
Pilihan Bahasa
KUNJUNGAN KE WEB INI